Rabu, 15 Februari 2012

Candi Ngrimbi


A. Selayang Pandang
Kabupaten Jombang merupakan salah satu kawasan di Jawa Timur yang diperkirakan telah memiliki peradaban sejak ratusan tahun silam. Sebagai buktinya adalah dengan ditemukannya fosil manusia purba Homo Mojokertensis di wilayah yang juga dikenal sebagai konta santri ini. Pada masa Kerajaan Mataram Lama dan Kerajaan Majapahit, Jombang punya peranan penting. Pada masa Kerajaan Majapahit yang beribukota diTrowulan, Mojokerto, Jombang adalah pintu gerbang kerajaan Hindu terbesar di Jawa itu. Pintu gerbang (gapura) Majapahit di sebelah barat berada di Tunggorono. Sedangkan untuk pintu gerbang sebelah selatan terdapat gapura yang berlokasi di Ngrimbi. Kedua daerah tersebut kini termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Jombang.

Di gapura sebelah selatan inilah terdapat bukti peninggalan kebesaran Majapahit yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang, yakni pintu gerbang berbentuk candi, bernama Candi Arimbi. Pelafalan “arimbi” lambat laun berubah menjadi “ngrimbi” yang kemudian digunakan juga untuk menyebut candi ini menjadi Candi Ngrimbi, selain dijadikan pula sebagai nama daerah di mana candi ini berdiri. Candi ini pun juga dikenal dengan satu nama lainnya, yaitu Candi Cungkup Pulo karena Dusun Ngrimbi berada di wilayah Desa Pulosari. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 Masehi. Nama Candi Arimbi kerap dihubungkan dengan nama tokoh dalam cerita pewayangan, yaitu Dewi Arimbi. Tokoh yang digambarkan sebagai perempuan perkasa ini adalah istri dari Werkudara alias Bimasena, salah satu dari Pandawa Lima bersaudara.

Di dalam Candi Ngrimbi ditemukan Arca Parwati (istri Dewa Syiwa, salah satu Dewa Tertinggi dalam konsep Trimurti). Menurut kepercayaan umat Hindu, Dewi Parwati merupakan sosok perempuan ideal, simbol kesuburan, dan bersama suaminya, Dewa Syiwa, menjadi ikon kesempurnaan kehidupan manusia yang disimbolkan dalamlingga dan yoni. Arca Parwati yang ditemukan di Candi Ngrimbi dilukiskan sebagai Tribuwana Tungga Dewi, penguasa Majapahit yang bertahta pada era 1328-1350 M. Konon, jenazah ibunda Raja Hayam Wuruk itu dikremasi di Candi Ngrimbi. Sekarang, Arca Parwati disimpan di Museum Nasional Jakarta.

B. Keistimewaan
Candi Ngrimbi dibangun menghadap ke arah barat di mana di sekitar areal situs ini ditanami dengan beraneka macam bunga dan tanaman cengkeh. Candi ini memiliki tinggi sekitar 10 meter, dengan panjang dan lebar masing-masing kurang lebih 8 meter dan 6 meter. Candi Ngrimbi didirikan di atas pondasi yang terbuat dari batu bata, sedangkan bangunan inti candi dibangun dengan menggunakan batu andesit. Situs Candi Ngrimbi berlokasi di lahan seluas 896.56 m2.

Di sekitar areal situs Candi Ngrimbi, Anda akan banyak menemukan arca-arca bercorak Hindu. Sedangkan pada halaman depan candi terdapat sejumlah reruntuhan batu, salah satu di antaranya adalah berupa lapik atau tempat bekas meletakkan arca yang menyisakan prasasti telapak kaki. Selain itu, ada juga ornamenkala dari batu dengan ukuran cukup besar yang terdapat di salah satu sudut sudut halaman candi. Kuat dugaan, pada zaman dulu, batu ini berfungsi sebagai hiasan yang diletakkan di depan pintu masuk ke ruangan bagian dalam.

Keistimewaan yang menjadi daya tarik Candi Ngrimbi adalah relief yang menghiasi dinding kaki candi. Relief-relief ini menceritakan tentang binatang dan keagamaan meskipun belum diketahui bagaimana jalan ceritanya. Di dinding kaki sebelah utara terdapat 17 bidang relief yang salah satunya berupa relief sepasang pengantin yang berada di dalam tempayan. Ada juga relief lelaki dan perempuan. Sang lelaki sedang mencangkul, sedangkan yang perempuan sedang membawa payung.

Meskipun terkesan kurang mendapat perhatian dari pihak yang berwenang, namun cagar budaya peninggalan Majapahit ini rupanya menjadi salah satu kebanggaan rakyat Jombang. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya gagasan untuk mengabadikan corak Candi Ngrimbi sebagai salah satu motif batik khas Jombang, yang dikenal dengan nama Batik Jombangan. Motif batik yang terinspirasi dari Candi Ngrimbi itu telah dipatenkan oleh pemerintah setempat sebagai hasil budaya asli Jombang.
c. Lokasi
Situs Candi Arimbi atau Candi Ngrimbi secara administratif terletak di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
d. Akses
Obyek wisata sejarah Candi Ngrimbi sangat mudah untuk dijangkau karena letaknya yang sangat strategis. Apalagi bangunan candi ini berada tidak jauh dari jalan raya Mojoagung-Wonosalam, jalan provinsi yang menghubungkan Surabaya dan Jombang, sehingga cukup banyak kendaraan umum yang bisa mengantarkan Anda ke lokasi candi dari Surabaya. Dari Kota Jombang, Candi Ngrimbi berada di arah tenggaranya dengan jarak sekitar 24 kilometer.
e. Tiket
Keberadaan Candi Ngrimbi sebagai situs bersejarah yang monumental seolah-olah luput dari perhatian pemerintah setempat dan belum dikelola dengan baik. Belum adanya pengelolaan yang baik itu membuat keberadaan situs candi ini masih terbengkalai sehingga penarikan retribusi untuk tiket masuknya pun belum ada. Dengan kata lain, hingga saat ini, sisa-sisa kejayaan Kerajaan Majapahit yang tersaji di Candi Ngrimbi dapat dinikmati tanpa membayar uang sepeserpun alias gratis, namun tentunya dengan kondisi yang masih apa adanya.
f. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Sebenarnya tidak banyak yang ditawarkan di areal situs Candi Ngrimbi selain sisa-sisa kejayaan masa silam, yaitu puing-puing peninggalan Kerajaan Majapahit. Namun, ternyata lokasi di mana candi ini berdiri tidak terlalu jauh dengan sejumlah obyek wisata lainnya yang bisa Anda kunjungi sekaligus. Dari Candi Ngrimbi, Anda bisa melanjutkan perjalanan melewati jalan provinsi untuk menuju kawasan Pegunungan Anjasmara di Wonosalam yang menyajikan pesona panorama alamnya. Di musim-musim tertentu, kawasan pegunungan ini juga terkenal sebagai daerah penghasil durian sehingga Anda pun bisa berburu durian sepuasnya.

Senin, 13 Februari 2012

Wonosalam Rafting

Akhirnya wisata rafting kaliboro wonosalam diresmikan. Selasa 8 Oktober 2011 dihadiri Wakil Bupati Jombang dan Dirjen Rehabilitasi Lahan Perhutanan Sosial Ir. Jajak Djatmiko, MM.

Rafting kaliboro ikut melengkapi pesona wisata Wonosalam Kaliboro Rafting terletak di dusun Mandiro Wonosalam, Untuk sampai di lokasi Rafting Jombang bisa ditempuh kurang lebih 40 menit lewat Mojoagung-Mojoduhur-Wonosalam dan atau lewat Trowulan-Jabung-Wonosalam.

Di antara Hutan Tropis Wonosalam yang masih hijau dan alami, Wonosalam Rafting hadir memberikan sensasi wisata arung jeram yang penuh tantangan dan mendebarkan.

Pada Uji coba resmi ini, Wabup Widjono menyempatkan diri untuk menjajal langsung olahraga ini. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang, akhirnya tiba juga di start venue rafting. Sungai Boro merupakan sungai yang memiliki banyak batu kali, tentunya dengan ukuran yang super besar. Arus sungai yang lumayan deras cukup memacu adrenalin bagi yang mau menjajal.



Ayo Datang dan kunjungi WONOSALAM.

Jumat, 10 Februari 2012

Sejarah....

Penemuan fosil Homo mojokertensis di lembah Sungai Brantas menunjukkan bahwa seputaran wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang diduga telah dihuni sejak ratusan ribu tahun yang lalu.

Tahun 929, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, diduga karena letusan Gunung Merapi atau seranganKerajaan Sriwijaya. Beberapa literatur menyebutkan pusat kerajaan yang baru ini terletak di Watugaluh. Suksesor Mpu Sindok adalah Sri Isyana Tunggawijaya (947-985) dan Dharmawangsa (985-1006). Tahun 1006, sekutu Sriwijaya menghancurkan ibukota kerajaan Mataram dan menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlangga, putera mahkota yang ketika itu masih muda, berhasil meloloskan diri dari serbuan Sriwijaya, dan ia menghimpun kekuatan untuk mendirikan kembali kerajaan yang telah runtuh. Bukti petilasan sejarah Airlangga sewaktu menghimpun kekuatan kini dapat dijumpai di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tahun 1019, Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan, yang kelak wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali; serta mengadakan perdamaian dengan Sriwijaya.

Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah yang kini Kabupaten Jombang merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah DesaTunggorono, Kecamatan Jombang, sedang gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Hingga ini banyak dijumpai nama-nama desa/kecamatan yang diawali dengan prefiks mojo-, di antaranya Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojongapit, dan sebagainya. Salah satu peninggalan Majapahit di Jombang adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Menyusul runtuhnya Majapahit, agama Islam mulai berkembang di kawasan, yang penyebarannya dari pesisir pantai utara Jawa Timur. Jombang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Islam. Seiring dengan melemahnya pengaruh Mataram, Kolonialisasi Belanda menjadikan Jombang sebagai bagian dari wilayah VOC pada akhir abad ke-17, yang kemudian sebagai bagian dari Hindia Belanda. Etnis Tionghoa juga berkembang; Kelenteng Hong San Kiong di Gudo, yang konon didirikan pada tahun 1700 masih berfungsi hingga kini. Hingga kini pun masih ditemukan sejumlah kawasan yang mayoritasnya adalah etnis Tionghoa dan Arab.

Tahun 1811, didirikan Kabupaten Mojokerto, di mana meliputi pula wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang. Jombang merupakan salah satu residen di dalam Kabupaten Mojokerto. Bahkan Trowulan (di mana merupakan pusat Kerajaan Majapahit), adalah masuk dalam kawedanan (onderdistrict afdeeling) Jombang.

Alfred Russel Wallace (1823-1913), naturalis asal Inggris yang memformulasikan Teori Evolusi dan terkenal akan Garis Wallace, pernah mengunjungi dan bermalam di Jombang ketika mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia.

Tahun 1910, Jombang memperoleh status Kabupaten, yang memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto, dengan Raden Adipati Arya Soeroadiningrat sebagai Bupati Jombang pertama. Masa pergerakan nasional, wilayah Kabupaten Jombang memiliki peran penting dalam menentang kolonialisme. Beberapa putera Jombang merupakan tokoh perintis kemerdekaan Indonesia, seperti KH Hasyim Asy'ari (salah satu pendiri NU dan pernah menjabat ketua Masyumi) dan KH Wachid Hasyim (salah satu anggota BPUPKI termuda, serta Menteri Agama RI pertama).

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur mengukuhkan Jombang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Jombang Optimis Kembali Raih Adipura

Lepasnya adipura tahun 2011, membuat tim adipura Kabupaten Jombang terus berbenah dan berusaha meningkatkan kekurangan yang ada. Terutama pembangunan fisik seperti taman yang ada disepanjang jalan-jalan protokol. “Ini disepanjang jalan protocol telah kita bangun taman dengan menanam tanaman perdu seperti puring”, tutur Heru Wijayanto kepala BLH Jombang.

Untuk menambah keindahan lingkungan, didukung oleh partisipasi perusahaan swasta untuk membangun taman. Sementara untuk kebersihan lingkungan mendapatkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat yang tinggal di perumahan dan kawasan pemukiman yang ada dikota Jombang. “Sebetulnya nilai kita tahun kemarin hanya kurang 0,05 sangat tipis”, cetus Heru.

Diungkapkan Heru bahwa pada penilaian adipura pantau I yang dilakukan tim dari pusat pada Januari 2012, ternyata nilai Kabupaten Jombang cukup tinggi, yakni diatas nilai rata-rata nasional 71. “Jombang mendapat nilai 75 untuk pantau I, dan tingginya nilai ini sempat membuat tim tidak percaya dan tim kementraian LH telah memverifikasi langsung secara diam-diam ke Jombang”, ungkap Heru.
Pelaksanaan verifikasi telah dilakukan sekitar pertengahan Januari 2012, tambah Heru. Tim dari kementrian LH yang dipimpin oleh Khafid Khoiruddin itu menyaksikan sendiri bagaimana peran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kebersihan lingkungan. Tim yang datang diam-diam itu ternyata melihat sendiri bagaimana ibu-ibu kader dan masyarakat di Perum Jaya Abadi melakukan kegiatan pengelolaan dan pemilahan sampah serta menggerakan kegiatan bank sampah dilingkungannya. ”Tim sangat heran, tidak dikondisikan koq program pemilahan sampah dan bank sampah koq kegiatannya ada”, ungkap Heru.

Buah dari melihat hasil konkrit kegiatan itulah, maka tim kementrian ini akan meminta salah seorang kader dilingkungan dari perum Jaya Abadi Jombang ini untuk menjadi narasumber di pusat guna menceritakan bagaimana pengelolaan sampah dan Bank Sampah dilakukan di Kabupaten Jombang. Saat ini BLH Kabupaten Jombang terus membudayakan kegiatan serupa untuk di kembangkan dipemukiman lainnya. Direncanakan pada Maret 2012 tim pusat akan melakukan penilaian untuk pantau II. (Wati_SJAM)

Jombang, 6 Pebruari 2012
BAGIAN HUMAS

JOMBANG....

Jombang adalah kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur. Luas wilayahnya 1.159,50 km², dan jumlah penduduknya 1.201.557 jiwa (2010), terdiri dari 597.219 laki-laki dan 604.338 perempuan. Pusat kota Jombang terletak di tengah-tengah wilayah Kabupaten, memiliki ketinggian 44 meter di atas permukaan laut, dan berjarak 79 km (1,5 jam perjalanan) dari barat daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Jombang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas selatan Pulau Jawa (Surabaya-Madiun-Jogjakarta), jalur Surabaya-Tulungagung, serta jalur Malang-Tuban.

Jombang juga dikenal dengan sebutan Kota Santri, karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya.Bahkan ada pameo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, dan Darul Ulum (Rejoso).

Banyak tokoh terkenal Indonesia yang dilahirkan di Jombang, di antaranya adalah mantan Presiden Indonesia yaitu KH Abdurrahman Wahid, pahlawan nasional KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, tokoh intelektual Islam Nurcholis Madjid, serta budayawan Emha Ainun Najib.

Konon, kata Jombang merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa yaitu ijo(Indonesia: hijau) dan abang (Indonesia: merah). Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan (nasionalis/kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan dan harmonis di Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang

Sabtu, 04 Februari 2012

Koperasi Pasar Tradisional Anugerah Sidowarek Diresmikan

Ditengah menjamurnya pasar modern yang menggerus laju pertumbuhan pasar tradisional, justru didesa Sidowarek Ngoro Jombang telah dibangun pasar tradisional baru yang dikelola oleh koperasi. Pasar tradisional yang lokasinya berada di KUD Anugerah desa Sidowarek Ngoro Kabupaten Jombang ini, dibangun dengan dana APBN sebesar 800 juta. Bangunannya terdiri dari 24 kios, lapak pasar tradisional dan tolilet. Pasar ini lahir sebagai wujud revitalisasi pasar tradisional melalui koperasi.

Pasar tradisional ini kemarin (4/2) pagi, diresmikan oleh Bupati Jombang Drs. H. Suyanto MM. Dihadiri sejumlah pejabat dilingkup pemkab Jombang dan Asisten Deputi Urusan Sarana Prasarana Pemasaran Kementrian Koperasi dan UMKM RI, Drs. Nyak Ubin Msi. Disampaikan oleh Nyak Ubin, dirinya sangat bangga dengan adanya pasar tradisional Sidowarek Ngoro Jombang, sebab dari 246 pasar yang dibangun oleh kementrian RI, baru pasar tradisional yang ada di Jombang inilah yang dikelola oleh KUD Anugerah dan dibangun dilahan milik koperasi.

“Kami berharap agar manajemen pasar tradisional ini dikembangkan dengan baik, jangan kalah dengan pasar modern”, tutur Nyak Ubin. Ditambahkan bahwa kelebihan dari pasar tradisional yang tidak dijumpai dipasar modern adalah adanya jalinan silaturahim dan keterikatan emosional antara penjual dan pembeli.

Bupati Jombang Drs. H. Suyanto MM dalam sambutannya mengajak KUD untuk tetap bersemangat membangun manajerial yang sehat dan profesional. Selain itu KUD juga harus membangun sinergitas dengan kelompok tani. Terkait dengan pasar tradisional yang dikelola koperasi, Bupati Suyanto menilai KUD Anugerah potensinya luar biasa. “Tinggal bagaimana mengendalikan pedal kas dan pedal rem sehingga laju KUD ini bisa berjalan dengan cepat tapi tetap stabil”, tandasnya.

Diharapkan juga akan tumbuh koperasi pasar yang lain di Jombang. Bupati berpesan jangan sampai ada lembaga baru yang akan mengelola pasar tradisional di Sidowarek Ngoro ini. “KUD Anugerah harus dibekali independensi untuk mengelola pasar tradisional ini yang tidak bisa diintervensi oleh unit lain, biarkan ini semakin berkembang dengan pendekatan sosiologis”, tandas Bupati dua periode ini. Hadir juga dalam peresmian itu wakil Bupati Jombang, Ketua DPRD, muspida beserta ibu.(Wati_SJAM)

Jombang, 4 Pebruari 2012
BAGIAN HUMAS